Sirah: ukhuwah islam

==============================

Suatu hari, khalifah Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.

Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan khalifah Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :

“Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!”

“Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !”.

Umar segera bangkit dan berkata :

“Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?”

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :

“Benar, wahai Amirul Mukminin.”

“Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

“Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini.”

“Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.”, sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

“Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

“Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat”, ujarnya.

“Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu”, lanjut Umar.

“Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

“Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa”.

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :

“Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah”, ujarnya dengan tegas.

“Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash”.

“Mana bisa begitu?”, ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

“Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?”, tanya Umar.

“Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin”.

“Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?”, pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

“Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar.

“Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :

“Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin”.

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

“Salman?” hardik Umar marah.

“Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”.

“Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya”, jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatan

gan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.

“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,

“Tak kukira… urusan kaumku… menyita… banyak… waktu…”.

”Kupacu… tungganganku… tanpa henti, hingga… ia sekarat di gurun… Terpaksa… kutinggalkan… lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

_*”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan… di kalangan Muslimin… tak ada lagi ksatria… menepati janji…”*_ jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :

“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?”

Kemudian Salman menjawab : _*Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.*_

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian…” ujar Umar.

“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :

_*”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya sesama muslim”.*_

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.

MasyaAllah…, saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..

Allahu Akbar … 😭😭😭

~~~

Beginilah layaknya contoh umat islam yg sebenarnya, bukan malah saling menghujat satu sama lainnya…

Subhanalloh…

Ya Alloh jadikanlah aku memiliki mental demikian. aamiin aamiin Allahuma aamiin.

Silahkan share, semoga bermanfaat.

Agar umat islam terhindar dari sifat saling hujat dan mudah dipecah belah.

#mr

Advertisements

Bab: Sombong

<kajian shubuh al-aqsha>

Bab: Sombong/ Kibbr

Kitab: Madarijus Shalikin

Karya: Ibnu Qoyyim Al-Jauzi

=========================

• Sumber permasalahan dari sombong adalah takhzin atau PERSEPSI.

Contoh: Iblis mempersepsikan berasal dari api & Manusia berasal dari tanah. itu hanyalah berdasar persepsi semata. Titik kritisnya kesemuanya adalah RELATIF (nisbi).

• Didunia ini tidak ada sesuatu yg haq/ pasti.

Kenyataannya adalah: tidak ada fakta bahwa api memiliki sifat yg lebih baik dari tanah.

Tanah bisa menumbuhkan tanaman, tanah bisa memberikan manfaat utk tempat tinggal makhluk hidup.

• Awal mula sifat kibbr/sombong adalah ujub/membanggakan diri, dengan merasa diri “lebih”

• Orang sombong enggan TAUBAT

• Jaga diri kita untuk tidak mempersepsikan diri memiliki sifat yang tampak lebih, karena kesemuanya itu hanyalah RELATIVE. Bisa jadi jika konteksnya dipersepsikan dari kacamata dunia nilainya akan tampak lebih, tetapi dalam konteks Hisab saat diakhirat kelak justru lebih kasihan. Karena prosesnya lama saat menghadapi hisab diakhirat kelak.

• Agar terhindar dari kibbr selalu hiasi diri dengan rasa Syukur.

• Selalu berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari sikap kibbr/sombong.

Wallahua’lam bishowab..

Asmaul husna: Al-Halim

“`

Kajian ASMAUL HUSNA

AL-HALIM /maha penyantun

====================

Ust: Jumharuddin, Lc

• oleh Rosul, sifat kesantunan itu adalah pemimpin dari semua akhlak

• Seandainya ada sifat yg bisa dimiliki nabi..hampir saja halim itu adalah sifat dari seorang nabi

• AL-Halim, allah berkehendak menunda hukuman kepada orang yg berhak menerimanya. Sehingga orang yg berdosa itu malu, dan kembali mengenal Allah dengan segala sifat mulianya.

• Seandainya Allah memperlakukan dg sifat adilnya, shg habis semua makhluk dimuka bumi. Tapi dengan sifat al-Halim nya Allah menunda hukuman dgn harapan hambanya memperbaiki diri & segera kembali ke Allah

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqarah: 263)

• Dalam sebuah hadist qudsi disebutkan: “Ketetatapan Allah, dengan sifat rahmat Allah mendahului murkaNya.”

• Al Halim berbeda dengan sifat sabar. Sifat sabar hukumnya wajib, sedangkan halim adalah salah satu sifat pendidik.

• Salah satu bentuk sifat Halim, cara mendidiknya Allah, maka diciptakannya neraka dg segala kedahsyatan siksaaanny supaya menjadi pengingat shg hambanya tidak masuk neraka.

• Dikisahkan Dzunnun al washi, pernah merasa hampa hatinya, merasa jiwa yg kosong. selanjutnya hanya kepada Allah lah tempat kembalinya hati yg hampa. “`

Wallahua’lam bishowab..

Hak-hak istri & kewajiban suami didalam islam

Oleh: Ustadz Ahmad Syarwat Lc, Ma.

Hak istri dalam syariat:

1. Haknya mahar semahal mungkin, rosul memberikan maharnya mencapai ~4M

2. Nafakoh/pemberian Nafkah => diberikan suami kepada istri.

Itu adalah hak istri.

Sementara jika jatah bulanan adalah kewajiban suami. Dan istri bukanlah sifatnya sebagai tukang bayar/kasir utk kebutuhan sehari-hari.

Jadi nafkah ini diluar kewajiban dari kebutuhan pokok sehari-hari.

Wajib atas suami berkhidmat untuk melayani istri. Sehingga jika istri tidak bersedia melayani (memasak, mencuci) suami, maka pihak suami wajib menyediakan pembantu untuk istri.

=> sementara untuk masak, mencuci merupakan proses adat. Dan bukan ketentuan syariat/agama.

Masa IDDAH

=========

3 jenis proses masa Iddah/menunggu:

1. Berdasar siklus haid, yaitu sebanyak 3 kali siklus (al baqorah: 228)

2. Hitungan hari, utk yg ditinggal mati..selama 4bulan & 10hari (al baqorah: 226)

3. Masa iddah saat hamil, yaitu menunggu sampai kelahiran bayinya (at talaq: 4)

Jenis talak/perceraian dlm islam ada 3:

1. Talak => dari pihak suami yg mengajukan

2. Khulu => dari pihak istri yg menetapkan

3. Fasyakh => hakim (digugurkan pernikahan), contoh:

• pernikahan karena kesalahan sepersusuan

• Nikah gantung (saat kecil blm baligh sdh diperjodohkan, saat didewasa dikembalikan ke pasangan)

Ketentuan khitbah dalam islam, tujuannya untuk menetapkan 3 hal:

1. Penentuan Mahar

• Tujuannya utk menentukan jumlah mas-kawin sesuai pihak pria & wanita

• Sesuai kesepakatan berdua, mulia laki-laki memberikan maskawin yg paling mahal, sementara mulianya wanita menetapkan mas kawin yg tidak memberatkan

2. Nafkah

• penetapan jumlah nafkah yg diberikan ke istri

• Nafkah tidaklah sama dengan gaji

• Wajib hukumnya utk diserahkan ke pihak istri

3. Mutah

• harta yang diserahkan jika melanggar kesepakatan/terjadi cerai

• Semacam denda yang bentuknya mengikat dan berkekuatan hukum

Wallahua’lam bisshowab..

Bab: Ketentuan Zakat

Z A K A T

=======

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits

Ada orang yang baru keterima kerja. Gaji pertama 5 jt/bln. Setiap kali dia mendapat gaji, dia zakati 2,5%.

Alasannya, dari pada zakatnya diakhirkan, lebih baik dicicil setiap bulan. Jadi tabungannya semua sdh dizakati. Sehingga, nanti tidak perlu dizakati. Katanya, ini disebut sebagai zakat profesi.

Apakah benar zakat profesi seperti itu ketentuanny? mohon penjrlasannya..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Zakat, tidak seperti sedekah atau infak yang sifatnya anjuran. Zakat itu kewajiban yang ada ukurannya. Islam memberikan aturan khusus untuk zakat. Sehingga, tidak semua bentuk memberikan harta kepada fakir miskin, bisa disebut zakat. Memberikan harta kepada fakir miskin hanya bisa disebut zakat, jika memenuhi aturan zakat. Jika tidak sesuai aturan, itu bukan zakat.

Sebagaimana shalat, di sana ada rukun dan syarat. Jika itu shalat wajib, di sana ada ketentuan mengenai waktu pelaksanaan. Orang hanya boleh shalat subuh, setelah terbit fajar. Orang yang shalat 2 rakaat 5 menit sebelum terbit fajar, tidak disebut shalat subuh, meskipun dia niat untuk shalat subuh.

Ketentuan umum zakat, nishab dan haul zakat dinyatakan dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ ، فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ

Jika kamu memiliki 20 dinar, dan sudah genap selama setahun, maka zakatnya ½ dinar. Lebih dari itu, mengikuti hitungan sebelumnya. (HR. Abu Daud 1575 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan adanya nishab dan haul (batasan waktu) untuk zakat mal. Dan ini aturan baku. Siapapun tidak dibenarkan untuk membayar zakat dengan aturan berdasarkan inisiatif pribadi. Karena ibadah itu wahyu dan bukan berdasarkan inisiatif manusia.

Nishab & haul, Sebab Wajibnya Zakat

Nishab adalah batas minimal harta yang wajib dizakati. Haul adalah batas waktu dikeluarkannya zakat. Selama seseorang belum memiliki harta satu nishab dan melampui haul, tidak ada kewajiban zakat baginya. Karena itu, membayar zakat sebelum nishab, sama dengan membayar zakat sebelum ada sebabnya. Para ulama meng-analogikan ini seperti orang shalat sebelum masuk waktu.

Untuk itu ulama sepakat tidak boleh membayar zakat sebelum memiliki harta satu nishab/ batas minimal dikeluarkanny zakat.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ولا يجوز تعجيل الزكاة قبل ملك النصاب بغير خلاف علمناه ، ولو ملك بعض نصاب فعجل زكاته أو زكاة نصاب : لم يجُز ؛ لأنه تعجَّل الحكم قبل سببه

Tidak boleh mendahulukan zakat sebelum memiliki harta satu nishab, tanpa ada perbedaan pendapat ulama yang kami tahu. Jika ada orang memiliki harta separuh nisab, lalu dia menyegerahkan zakat, atau dia bayar zakat satu nishab, hukumnya tidak boleh. Karena dia mendahulukan hukum sebelum sebab. (al-Mughni, 2/495)

Dalam Ensiklopedi Fiqh juga dinyatakan,

لا خلاف بين الفقهاء في عدم جواز التكفير قبل اليمين ؛ لأنه تقديم الحكم قبل سببه ، كتقديم الزكاة قبل ملك النصاب ، وكتقديم الصلاة قبل دخول وقتها .

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang tidak bolehnya membayar kaffarah sumpah sebelum ada sumpah, karena berarti mendahulukan hukum sebelum ada sebabnya. Seperti mendahulukan zakat sebelum memiliki satu nishab, atau mendahulukan shalat sebelum masuk waktunya. (al-Masusu’ah al-Fiqhiyah, 35/48)

Kami tegaskan ulang, kesimpulan bahwa membayar zakat sebelum nishab, zakatnya tidak sah. Tidak sah dalam arti tidak terhitung sebagai zakat. Meskipun dia mendapat pahala sedekah dari harta yang dia berikan ke fakir miskin.

Kasus Zakat Bulanan

===============

Ketika si A memiliki gaji 5 jt/bulan, secara perhitungan, dalam setahun pemasukan si A senilai 60 jt. Nilai ini di atas satu nishab. Apakah si A wajib zakat?

Bahwa yang dihitung dari zakat adalah tabungan, akumulasi uang mengendap, dan bukan akumulasi pemasukan. Pemasukan si A 5jt/bln. Tapi jika dikurangi biaya hidup dan semua pengeluarannya, si A hanya menyisakan Rp 1 jt yang bisa ditabung.

Jika penghasilan si A hanya ini, sementara dia tidak punya tabungan, maka si A tidak wajib zakat. Dalam waktu setahun, tabungan si A baru terkumpul 12 jt.

Itu artinya, jika si A membayar zakat 2,5% dari sejak dia mendapatkan gaji di bulan pertama, berarti si A membayar zakat sebelum memiliki harta satu nishab. Dan tentu saja, tidak sah sebagai zakat, meskipun dia mendapat pahala sedekah.

Jika kita asumsikan kondisi si A selalu stabil, maka dia baru memiliki harta 1 nishab, setelah kurang lebih 3,5 tahun bekerja. Sehingga si A memiliki tabungan 43 juta. Di titik itu, si A baru memiliki harta satu nishab. Tetapi haulny tidak terpenuhi. Tapi si A belum diwajibkan bayar zakat. Sampai uang itu mengendap selama setahun.

Sisi Negatif Zakat Profesi

Fokus di pertanyaan.

Masyarakat menganggap model zakat semacam ini dengan zakat profesi. Setidaknya ada 2 konsekuensi buruk ketika zakat profesi diterapkan,

[1] Orang yang belum memiliki harta sebesar nishab, membayar zakat. Padahal itu zakat sebelum ada sebabnya. Dan ulama sepakat, zakatnya tidak sah.

[2] Muncul anggapan tidak lagi wajib zakat karena sudah dikeluarkan zakat profesinya setiap bulan ketika menerima gaji. Padahal dia punya tabungan di atas nishab tersimpan tahunan, yang seharusnya itu dizakati.

Dari kasus si A. Dengan asumsi penghasilan si A tetap, mungkin di tahun keempat, si A tabungannya menjadi 48 jt. Di atas nishab. Tapi si A merasa dia sudah zakat, sehingga tidak bayar zakat lagi. Padahal tabungan itulah yang seharusnya dizakati.

Menurut mayoritas para ulama kontemporer bahwa zakat profesi tidak dikeluarkan pada saat diterima akan tetapi digabungkan dengan uang yang lain yang mencapai nishab dan mengikuti haulnya (berlalu 1 tahun qamariyah).

Pendapat ini juga merupakan hasil keputusan muktamar zakat pertama se-dunia di Kuwait pada tahun 1984, yang berbunyi,

”Zakat upah, gaji dan profesi tidak dikeluarkan pada saat diterima, akan tetapi digabungkan dengan harta yang sejenis lalu dizakatkan seluruhnya pada saat cukup haul dan nishabnya.”

[Kisah: Penghasilan Milyaran, Tidak Wajib Zakat]

Berpenghasilan besar, belum tentu mendapat kewajiban zakat. Karena zakat hanya dibebankan untuk orang yang memiliki harta mengendap satu nishab selama setahun.

Meskipun seseorang memiliki harta di atas satu nishab, namun habis sebelum satu tahun, dia tidak wajib zakat.

Dulu ada ulama besar yang Allah berikan kekayaan melimpah, namun beliau tidak pernah berzakat. Karena hartanya habis sebelum genap setahun. Beliau adalah al-Laits bin Sa’d rahimahullah.

Qutaibah menceritakan,

كان الليث يستغل عشرين ألف دينار في كل سنة وقال ما وجبت علي زكاة قط

Penghasilan Al-Laits mencapai 12.000 dinar dalam setahun. Dan beliau mengatakan, “Aku tidak pernah mendapat kewajiban zakat.”

12.000 dinar itu berapa rupiah?

Rp 25.500.000.000. Biar gampang bacanya, kita ringkas: 25 M + 500 jt.

Mengapa beliau tidak pernah zakat?

Uang itu habis sebelum haul.

Beliau pernah memberikan 1000 dinar ke Manshur bin Ammar,

1000 dinar kepada Ibnu Lahai’ah (seorang ulama hadis).

500 dinar kepada Imam Malik, dst.

dan masih banyak lagi yang belum tercatat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/28026-zakat-yang-tidak-sah.html

Bab: Istikharoh

===============

Rosulullah bersabda,

“Kalau merasa gundah akan sebuah urusan, maka shalatlah dua rakaat, ini bukan shalat wajib. Kemudian bacalah do’a ini:

Allahumma inni astakhiiruka bi’ilmika

(Ya Allah pilihkan dengan ilmu-Mu),

wa astaqdiruka biqudrotika

(dan aku minta Kau tentukan kekuasaan-Mu),

wa as-aluka min fadhlikal ‘adziim

(dan dari keutamaan-Mu Yang Agung),

Fa innaka taqdiru walaa aqdiru (sesungguhnya Engkau Yang Maha Kuasa menentukan sementara aku tidak kuasa dan tidak menentukan),

wata’lamu wa laa a’lamu wa anta ‘alamal ghuyuub.

(Engkau Yang Tahu dan aku tidak tahu, Engkau Yang Maha Mengetahui yang ghoib).

Allahumma in kuntu ta’lamu anna hadzaal amr khoirun lii fii dii nii wama’aa syii wa’aa qibati amrii

(Ya Allah jika kau tahu bahwa urusan ini baik untukku, baik untuk kehidupanku, untuk agamaku, kehidupanku, dan akhir urusan ini baik sekarang atau nanti),

faqdurhulii wayassarhu lii tsumma baarik lii fiihi

(maka putuskanlah untuku mudahkanlah, kemudian berkahilah aku pada urusan ini).

Wa inkunta ta’lamu anna hadzaal  amra syarri lii fii diinii wa ma’aa syii wa’aaqibati amrii

(Ya Allah kalau ternyata urusan ini tidak baik untukku, di agamaku, di kehidupanku, di akhir urusan ini nanti),

fashrifhu ‘annii washrifnii ‘anhu

(maka jauhkan ia dariku, jauhkan aku darinya)

waqdur liil khaira

(kemudian tetapkan untukku yang baik)

khaitsu kaa na tsumma ardhinii bih

(di manapun berada dan buatlah aku ridho dengannya).

=>Kemudian diajarkan berdo’a dan menyebutkan apa kebutuhannya dan apa masalahnya. “…”

Lihatlah, do’a ini ternyata ada kata

tsummabarikli fii

(kemudian berkahi aku ya Allah dalam urusan ini).

artinya, agar urusan kita berkah—mengingat kita tidak tahu masa depan—mintalah dipilihkan oleh Allah dan berdo’alah. Maka istikharahlah agar urusan kita diberkahi.

Aamiin..YRA

Kenapa aku diuji?

📒📒➖➖➖➖

📎KENAPA AKU DIUJI?

Surah Al-Ankabut ayat 2-3

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-

orang sebelum mereka, maka

sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia

mengetahui orang-orang yang dusta.

📎KENAPA AKU TIDAK MENDAPATKAN APA YANG

AKU IDAM-IDAMKAN?

Surah Al-Baqarah ayat 216

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

📎KENAPA UJIAN SEBERAT INI?

Surah Al-Baqarah ayat 286

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

📎RASA FRUSTASI?

Surah Al-Imran ayat 139

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

📎BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?

Surah Al-Imran ayat 200

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.

Surah Al-Baqarah ayat 45

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu

📎APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI?

Surah At-Taubah ayat 111

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.

📎KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?

Surah At-Taubah ayat 129

Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal

📎AKU TAK DAPAT BERTAHAN LAGI….

Surah Yusuf ayat 87

Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.

myquran.or.id

◦ #باركم الله فيحياتكم

Dalam acara ILC itu terdapat beberapa hal yang sangat menggelitik, bahkan mengusik intelektualitas, bahkan sensitifitas iman saya.

Pertama, pernyataan bahwa yang berhak memahami Al-Quran adalah hanya Allah
dan RasulNya. Pernyataan ini sangat paradoks dengan posisi keagamaan Nusron yang selau mengatakan bahwa teks-teks agama itu harus dengan logika. Bahkan yang menentukan kebenaran adalah logika manusia, seperti pada posisi dasar liberalisme.

Kedua, pernyataan di atas sejatinya bertentangan dengan tujuan dasar Al-Quran untuk dipahami oleh manusia: “inna anzalnaahu Qur’aanan Arabiyan la’allakuk ta’qiluun”. Intinya Al-Quran diturunkan untuk dipahami. Dan kalau hanya Allah dan RasulNya yang paham makna Al-Quran, untuk apa diturunkan kepada manusia? Apalagi jika memang Al-Qur’an itu ditujukan sebagai petunjuk (hudan linnas). Bisakah manusia menjadikannya sebagai manual (pedoman) hidup jika tidak memahaminya?

Ketiga, pernyataannya tentang pernyataan Ahok bahwa hanya Ahoklah yang paham. Nusron secara tidak langsung mengatakan semua orang harus menutup telinga dan mata dari sikap dan kata Ahok. Ada dua kemungkinan dalam hal ini. 1. Boleh jadi karena kebutaan dan ketulian Nusron menghendaki semua manusia buta dan tuli. Sehingga tidak perlu lagi atau berpura-pura tidak tahu lagi apa yang diucapkan oleh Ahok. 2. Boleh juga karena Yusron sudah menempatkan Ahok pada posisi Tuhan yang firmanNya absolut dan hanya dia yang paham.

Keempat, penampilan Yusron dengan mimik wajah yang emosional, kata-kata yang tidak terkontrol, nampaknya memang satu karakter dengan orang yang ingin dimenangkannya. Tampil dalam setting diskusi, apalagi disiarkan secara langsung ke seluruh pelosok tanah air melalui televisi nasional, sangatlah tidak pantas dengan emosi yang tidak terkontrol. Biasanya sikap seperti itu sekaligus menjadi ukuran kedalaman ilmu dan kematangan kejiwaan seseorang.

Kelima, mungkin yang paling mengusik adalah sebagai kader NU (semoga benar) sikap Nusron adalah antithesis dari karakater NU yang tradisinya menghormati para ulama (bahkan tradisi nahdhiyin paling menghormati ulama/kyai, cium tangan, dll -red). Ketika Nusron berteriak-teriak menunjuk-nunjuk ulama, langsung atau tidak, maka dalam bahasa jalanan itu namanya “kurang ajar”.

Oleh karenanya semua pihak harus mencari cara agar Nusron ini tidak lagi mengulangi. Perbedaan pendapat okelah. Saya mendukung adanya perbedaan pendapat, termasuk dalam penafsiran teks-teks agama. Tapi hendaknya dilakukan pada batas-batas syar’i, dan yang lebih penting dibangun di atas dasar “khuluqi”.

Wallahu al-Muwaffiq ilaa aqwamit thoriq (penutup di NU).
Oleh: Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation & Muslim Foundation of America, Inc.

View on Path

“Sesuk yo Le..”

“SESUK YO LE….”Sewaktu kecil.. Saya tumbuh di pasar. Ibu saya berjualan es teh di pinggir pasar Klaten saat itu. 
Bagi kawan2 di Klaten, jika Anda tahu toko plastik sari utama. Di depan toko itulah ibu saya berjualan.
Setiap hari saya di sana, karena saat itu tak ada orang lain yg merawat saya. 

Bapak saya merantau mencari nafkah dikota yg lain. Ibu memenuhi kebutuhan harian kami dengan berjualan es teh.
Setelah sore kami pulang ke rumah kontrakan…

Dari pasar menuju rumah, banyak sekali toko-toko yg kami lewati dengan berjalan kaki. Dari toko makanan, jajanan, sampai mainan.
Saat melewati toko mainan. Saya berhenti..namanya anak kecil. Pingin punya. Hampir selalu begitu. Berhenti sejenak melihat mainan yg dijajar. Sambil membayangkan punya salah satu dari itu. Sejenak tidak peduli dengan apapun sampai ibu saya mendekati lalu berkata,

“Sesuk yo le.. (besok ya nak)”

Dan kami pun berjalan lagi..
Saat melewati toko makanan juga demikian. Melihat ayam yg dibakar. Serasa ingin mencoba..namanya juga anak kecil.

Dan makanan yg demikian tidak tentu kami makan sebulan sekali. Dan lagi.. Saya terdiam dan melihat. Sampai kemudian ibu saya datang mendekat dan berkata lagi,”Sesuk yo le.. (besok ya nak)”..

Dan kami pun berjalan lagi..
Melewati toko jajanan pun juga sama. Saya berhenti saat melihat barisan chiki ball yg dipajang di etalase toko.

Dan lagi kalimat ajaib “Sesuk yo le.. (besok ya nak)”. Itu bisa membuat saya berjalan lagi.
Saya bersyukur dibesarkan dengan kalimat,_”Besok ya nak…”

Karena kalimat itu sudah mengajarkan saya untuk bersabar.

Mengajarkan, bahwa tidak semua hal harus dimiliki saat ini jika memang belum mampu.
Meskipun sekarang saya baru tahu, bahwa kalimat itu terucap karena memang ibu tak cukup punya uang untuk membeli apa yg saya inginkan.
Kalimat itu juga menyadarkan saya sekarang. Bahwa ibu saya begitu hebat luar biasa.
Seandainya saya tidak dididik dengan kalimat “Sesuk yo le..”

Mungkin saat ini saya akan menjadi pribadi yg tak sabaran, pribadi yg tak mengenal rasanya menahan diri, bersyukur dan berani berjuang.

Ini sekaligus bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Di tengah jaman yg serba penuh dengan barang mewah saat ini. Memancing kita untuk setiap saat jadi gampang pingin. Ingin hp baru, mobil baru dsb.

Alhasil, bagi mereka yg tak sanggup menahan diri..

Pilihan singkat pun diambil, “Ngutang, nyicil, kredit dan apapun namanya..

Yg sering kita dapati menjadi penyebab dari hancurnya kehidupan banyak keluarga dan hilangnya ketenangan dari banyak jiwa.

Insyaallah.. Yakin saja.., bahwa rezeki kita ada jalannya.

Sabar saja kawan. Asal kerja keras, lalu pastikan harus halal.Insyaallah kelapangan rezeki akan hadir dalam kehidupan..
Tinggal sekarang,

Kita harus berani bilang ke diri masing-masing tatkala diri memang belum mampu memenuhi ini dan itu dengan kalimat :

“`SESUK YO LE….“`

📚Marketing Akhirat

Saya beberapa kali bertemu dan belajar dengan para pengusaha-pengusaha yang berhasil memanage perusahaanya & selalu kebanjiran order.Ketika saya belajar dengan mereka, saya sangat terkejut sekali ketika sudah membahas soal Marketing akhirat…

Ternyata para pengusaha tersebut, mereka bisa mendapatkan omset melebihi ekspektasinya karena mereka mempraktekan ilmu marketing akhirat terlebih dahulu sebelum mempraktekan ilmu marketing bumi

Apakah Anda tau Marketing Akhirat itu?
Marketing Akhirat itu adalah usaha-usaha yang kita lakukan selain dengan ilmu-ilmu dunia (Ilmu Marketing, Ilmu Negosiasi, Teknik Closing, dll.. )

Lalu Contoh dari Marketing akhirat itu apa saja?

1. Ketaatan para istri kepada suaminya

2. Melaksanakan Ibadah Solat wajib tepat waktu

3. Melaksanakan ibadah solat sunnah (Dhuha & Tahajud)

4. Sedekah Setiap Hari

5. Berbakti kepada orang tua

dan

6. Bersilaturahim

Nahh, kebanyakan dari anda mungkin ada yang lebih memikirkan urusan marketing dunia daripada marketing akhirat saat ini.

Sekarang coba anda renungkan “Sebenernya anda berbisnis saat ini hanya untuk mengejar urusan dunia saja atau anda berbisnis untuk mengejar urusan akhirat?”

Jika anda dalam berbisnis hanya mengejar urusan dunia pantaslah anda mengalami hal-hal seperti ini :

1. Target tidak terpenuhi anda marah-marah

2. Ketika anda berbisnis yang penting untung banyak, masalah produk bermanfaat atau tidak saya tidak mau tau

3. Marah-marah di sosial media ketika di phpin customer

4. Terobsesi pengen cepat kaya dalam waktu singkat sehingga dalam berbisnis anda tidak ingin tau ini bisnis halal atau haram

Jika anda dalam berbisnis seperti itu naudzubilah, Sesungguhnya urusan dunia itu hanyalah tipuan belaka, dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah yang akan kekal.

Percayalah jika anda berbisnis hanya terobsesi dalam urusan uang/dunia saja saja maka :

1. sebanyak apapun anda mempunyai harta maka tidak akan pernah merasa cukup.

2. Walaupun Anda mempunyai harta ratusan juta maka hatimu akan mengalami kegelisahan yang terus menerus seolah-olah hidup ini tidak ada artinya

3. Anda akan semakin jauh dari pertolongan Allah Ta’ala

4. Anda akan semakin jauh dari apa yang yang diperintah Allah Ta’ala dan Rasulnya.

Apalagi jika anda dalam berbisnis sudah mengabaikan urusan halal dan haram.

Janganlah kamu berpikir bahwa “Cari uang yang haram aja susah apalagi yang halal”

Sungguh cara berpikir orang demikian adalah cara berpikir orang-orang bodoh.

Rejeki Allah Itu Luas dan Rejeki yang halal pun masih banyak di dunia ini tapi kenapa anda masih mencari nafkah/harta dari jalur yang haram.

Apakah berarti, Anda tidak kasihan dengan anak dan pasangan anda, mereka di kasih makan dari jalur yang haram.

Jika anak di beri makan dari jalur yang haram, maka mau jadi apa nantinya?

Jika kita dalam mencari rejeki dari jalur yang haram maka anda akan mengalami hal-hal seperti ini :

1. Keluarga berantakan

2. Anak tidak patuh dan tidak mau nurut dengan orang tuanya

3. Suasana rumah terasa seperti neraka dan merasa sudah tidak ada lagi ketenangan di rumah

4. Kita mencari kesenangan kesenangan dunia agar hati kita tenang tetapi justru yang di dapat malah hati semakin gelisah.

Jika kita berbisnis sudah mengalami hal hal seperti ini maka “Segeralah introspeksi” dan luruskan niat kita dalam berbisnis.

Bukankah kita sudah sering mendengar “BISNIS ITU BUKAN MASALAH UNTUNG RUGI TETAPI MASALAH SURGA DAN NERAKA”

Memanglah demikian, Berbisnis itu bisa mengakibatkan seseorang masuk surga dan bisa mengakibatkan seseorang masuk neraka.

#wallahu a’lam bishowab..